Tanah Objek Reforma Agraria (TORA)

Lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) adalah tanah yang dikuasai negara dan/atau tanah yang telah dimiliki masyarakat untuk diredistribusi atau dilegalisasi. Subjek reforma agraria adalah penerima TORA yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan untuk menerima TORA. Di Kabupaten Siak, lahan TORA merupakan lahan eks HGU PT. MEG yang telah didistribusikan kepada masyarakat melalui program pemerintah dengan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan lahan secara bijak. Sebanyak 27000 sertfikat telah dibagikan langsung kepada masyarakat dari total 40000 sertifikat yang telah dibuat. Penerima lahan TORA ini berasal dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Pusako yang terdiri dari 5 desa (Pusako, Pebadaran, Benayah, Sei Limau dan Barbari), kecamatan Sungai Apit terdiri dari  4 Desa (Teluk Masjid, Lalang, Bunsur dan Mengkapan) dan Kecamatan Mempura yaitu 1 Desa (Koto Ringin).

Pembagian lahan TORA  dilakukan secara acak oleh pemerintah menjadi salah satu  kendala dalam pembuatan kelembagaan dalam pengelolaan TORA. Sebagian besar masyarakat tidak mendapatkan lahan yang berada pada desa/daerah mereka tinggali.

Kawasan TORA yang merupakan eks HGU PT. MEG terbagi menjadi dua Kawasan yaitu Zona 7 dan Zona 9 dengan luas kurang lebih 2000 ha pada masing masing zona. Areal Zona 7 terdapat daerah Kecamatan Sungai Apit sedangkan Zona 9 terletak pada Kecamatan Pusako dan Koto Ringin.

Berdasarkan hasil kajian BRG Indonesia yang telah melakukan ground check di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 90% lahan TORA termasuk dalam kategori gambut dalam >3 m yang mana berdasarkan  regulasi PP 71/2014 jo PP 57/2016 termasuk fungsi lindung ekosistem gambut sehingga sangat terbatas arahan pemanfaatannya.   Prosentase gambut dalam pada zona 7 adalah 97.74% dan gambut dangkal adalah 2.26%, sedangkan prosentase gambut dalam pada zona 9 adalah 91.04% dan gambut dangkal adalah 8.96%.

Dengan adanya fakta kedalaman gambut tersebut secara tidak langsung telah menjadi faktor pembatas dalam upaya usaha pengelolan  pada lahan TORA. Berdasarkan  hasil kajian tersebut lahan gambut TORA dibagi  menjadi dua tipe lahan yaitu areal dengan ketebalan gambut < 300 cm selanjutnya dikategorikan sebagai kawasan Fungsi Budidaya Ekosistem Gambut (FBEG) sedangkan areal dengan ketebalan gambut > 300 cm dikategorikan sebagai kawasan Fungsi Lindung Ekosistem Gambut (FLEG).

Pada zona 7, areal yang termasuk kedalam fungsi budidaya dengan kategori kedalaman gambut tengahan dan dalam memiliki luas kurang lebih 43 ha dan untuk  zona 9 yang kedalam fungsi budidaya dengan kategori kedalaman gambut dangkal, tengahan dan dalam memiliki luas yang lebih besar yaitu kurang lebih 182 ha, sedangkan untuk luas sisa masing-masing zona merupakan fungsi lindung dengan kategori kedalaman gambut sangat dalam yaitu 1.903 ha untuk zona 7 dan 1.860 ha untuk zona 9.

Pada lahan TORA juga dilakukan tata kelola/ pembagian lahan untuk mengakomodir kepentingan lindung dan budidaya di lahan gambut agar bisa dimanfaatkan secara maksimal. Pada kawasan budidaya akan diterapkan pola tanam  multicroping dengan jenis tanaman semusim dan tanaman perkebunan. Sedangakan untuk Kawasan Lindung akan dibagi menjadi tiga sub blok dengan menerapkan dua jenis pola tanam yaitu pola tanam konservatif  dan semi intensif.